Berita Hawzah – Dengan memohon kepada Allah Swt agar menerima segala amal ibadah kaum muslimin, menyajikan penjelasan mengenai doa hari ketujuh belas bulan suci Ramadhan yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hasan Zamani. Berikut adalah doa hari ketujuh belas bulan Ramadan beserta artinya:
«اللهمّ اهْدِنی فیهِ لِصالِحِ الأعْمالِ واقْـضِ لی فیهِ الحَوائِجَ والآمالِ یا من لا یَحْتاجُ الى التّفْسیر والسؤالِ یا عالِماً بما فی صُدورِ العالَمین صَلّ على محمّدٍ وآلهِ الطّاهِرین»
"Ya Allah, bimbinglah aku di bulan ini untuk melakukan amal-amal saleh, kabulkanlah hajat dan cita-citaku. Wahai Zat yang tidak membutuhkan penjelasan dan pertanyaan, Wahai Yang Maha Mengetahui segala isi hati seluruh alam, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya yang suci."
Pada hari ini, orang yang berpuasa memohon dua hajat kepada Allah dan menyebutkan dua sifat Allah, lalu berdoa. Di antara dua permohonan yang diajukan kepada Allah, ia memulai dengan memohon petunjuk Ilahi untuk melakukan amal saleh. Dalam kalimat ini, ada dua hal yang perlu diperhatikan:
Iman dan Amal Saleh Bersama-sama Mendatangkan Kebahagiaan
Memiliki iman dan keyakinan yang murni saja tidak cukup untuk mencapai kebahagiaan manusia. Selain beriman, seseorang juga harus memiliki amal saleh, karena hal ini merupakan syarat mutlak untuk meraih kebahagiaan. Dalam Al-Quran pun, iman dan amal saleh selalu disebutkan secara berdampingan.
Apa Itu Amal Saleh?
Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah, apa itu amal saleh? Jika kita ingin membuat daftar amal saleh, kita harus merujuk kepada tiga sumber: kewajiban-kewajiban dalam fikih, amalan-amalan sunnah dalam fikih, dan bagian ketiga adalah amalan-amalan yang tidak disebutkan dalam fikih, tetapi dijelaskan dalam ilmu akhlak dan kitab-kitab akhlak.
Fikih kita tidak komprehensif dalam mencakup semua keutamaan, karena hanya menyebutkan sebagian dari amalan wajib, sunnah, haram, dan makruh. Banyak amalan haram, sunnah, dan wajib yang tidak disebutkan dalam fikih, seperti mengingkari janji yang hukumnya haram tetapi tidak dibahas dalam fikih, atau seperti berkhianat dalam amanah, atau seperti mengungkap rahasia orang lain yang tidak memiliki bab khusus dalam fikih. Hal-hal ini dibahas dalam ilmu akhlak, begitu juga kewajiban-kewajiban seperti menepati janji dan silaturahmi yang hanya dibahas dalam ilmu akhlak.
Amal Saleh Adalah Gabungan dari Kewajiban dan Amalan Sunnah dalam Fikih dan Ilmu Akhlak
Fikih tradisional kita tidak komprehensif dan memiliki kekurangan. Para ahli fikih mentolerir kekurangan ini karena telah dibahas dalam ilmu akhlak. Namun, orang-orang awam mengira bahwa selain apa yang ada dalam fikih, kita tidak memiliki kewajiban dan larangan lain. Padahal, semua kewajiban dan amalan sunnah dalam fikih dan ilmu akhlak harus digabung sehingga menjadi amal saleh.
Pada penggalan lanjutan dari doa ini, kita memohon kepada Allah swt agar mengabulkan hajat kita. Di sini, ada tiga hal yang perlu dijelaskan: Pertama, apa itu harapan (cita-cita) dan bagaimana hukumnya? Kedua, apa itu hajat dan bagaimana hukumnya? Ketiga, apa kewajiban kita dalam memenuhi hajat orang lain?
Pentingnya Menghindari Cita-Cita Duniawi yang Merusak
Cita-cita terbagi menjadi dua jenis: Pertama, cita-cita duniawi yang muncul dari cinta dunia dan sikap saling berlomba-lomba dalam urusan dunia. Ketika seseorang melihat harta dan kedudukan orang lain, ia ingin memiliki kekayaan seperti mereka. Al-Qur'an berfirman: « وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى», "Dan janganlah sekali-kali kamu tujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir), (karena) itu adalah perhiasan kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal." Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak terlalu mengejar urusan duniawi. Meskipun Nabi Muhammad Saw adalah seorang yang maksum (terjaga dari dosa), ayat ini sebenarnya ditujukan sebagai pelajaran bagi kita semua. Kita harus menyadari bahwa ambisi duniawi yang berlebihan justru dapat merusak jiwa.
Seorang Mukmin Harus Memiliki Cita-Cita yang Tinggi
Jenis cita-cita yang kedua adalah cita-cita yang penuh keutamaan, yang secara istilah disebut "idealisme". Ini adalah suatu keutamaan dan kewajiban. Seorang mukmin tidak boleh merasa puas dengan apa yang dimilikinya dalam pertumbuhan dirinya dan masyarakat. Ia harus memiliki cita-cita yang tinggi dan memohon derajat yang lebih tinggi kepada Allah Swt.
Seandainya Imam Khomeini (rahimahullah) tidak memiliki visi yang besar dan hanya menerima dan berpuas diri dengan perbaikan-perbaikan kecil yang dilakukan kepada penguasa tirani (thaghut) seperti yang dilakukan oleh sebagian marja' pada masanya, revolusi Islam tidak akan pernah terwujud dan rezim Shah tidak pernah akan runtuh. Visi agung Imam Khomeini (rahimahullah) tidak hanya sebatas mewujudkan revolusi, melainkan juga menyebarkan nilai-nilai revolusi Islam ke seluruh penjuru dunia. Beliau terus berupaya merealisasikan visi tersebut hingga akhir hayatnya. Oleh karena itu, kita harus memohon kepada Allah agar cita-cita besar kita dikabulkan.
Apa Itu Hajat dan Apa Kewajiban Kita?
Hajat lebih pendek dari cita-cita, dan merujuk pada kebutuhan dan masalah sehari-hari yang kita hadapi. Dalam hal ini, ada beberapa poin yang perlu dibahas. Pertama, seorang mukmin hendaknya memohon dan meminta kebutuhan mereka kepada Allah secara lisan, misalnya di antara dua salawat. Kedua, jika seseorang memiliki kebutuhan yang belum terpenuhi karena alasan tertentu, janganlah kecewa kepada Allah dan jangan bersikeras agar kebutuhan itu dipenuhi dengan segala cara. Sebaliknya, katakanlah 'Jika ini yang terbaik untukku, maka kabulkanlah,' karena terkadang hal itu tidak baik untuknya.
ebagai contoh, seseorang yang belum memiliki anak, sebaiknya memohon kepada Allah. Namun, jangan sampai ia memaksa dengan cara yang berlebihan hingga kemudian kecewa, karena boleh jadi hal itu sebenarnya tidak baik baginya. Demikian juga seseorang yang menginginkan kekayaan, hendaknya memintanya kepada Allah dengan syarat: jika memang baik (sesuai maslahat) baginya.
Kita mempunyai kewajiban untuk memohon kepada Allah, tetapi kita juga harus yakin bahwa tidak ada satu pun hajat (permohonan) yang ditolak: permintaan itu akan dikabulkan di dunia, atau akan disimpan dalam bentuk yang lebih baik untuk (balasan) akhirat kita.
Poin penting lainnya adalah: sebagaimana kita mempunyai kewajiban untuk meminta agar Allah Yang Mahatinggi mengabulkan kebutuhan-kebutuhan kita, kita juga berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Barang siapa di dunia ini tidak peduli terhadap (kebutuhan) manusia, maka janganlah ia berharap terlalu banyak dari Allah.
Dalam bagian selanjutnya dari doa hari ini, kita menyebutkan dua sifat Allah. Pertama: “Wahai Tuhan yang tidak membutuhkan pertanyaan dan penjelasan, dan sebelum kami mengucapkannya dengan lisan, Engkau sudah mengetahui apa yang kami inginkan.” Kedua: “Wahai Tuhan Yang Maha Mengetahui segala rahasia yang tersembunyi.”
Harus dikatakan: Allah tidak membutuhkan pertanyaan dan jawaban, sehingga kita harus mengatakannya dan mengungkapkannya dengan lisan agar Dia mengerti. Akan tetapi, alasan mengapa kita diperintahkan untuk memohon dan mengungkapkan keinginan kita adalah untuk menciptakan landasan dan kelayakan eksistensial untuk menerima hajat itu dalam diri kita.
Penjelasan Imam Khomeini (rahimahullah) tentang Macam-Macam Doa
Imam Khomeini dalam penjelasannya mengenai doa sahur mengatakan bahwa doa dapat dipanjatkan dengan tiga tingkatan, dan manusia berdoa dalam tiga tingkatan pula.
Tiga tingkatan doa:
1. Doa lisan (qal): Doa yang hanya diucapkan dengan kata-kata. Tingkat doa ini memiliki kemungkinan terkabul yang kecil.
2. Doa keadaan (hal): Doa yang disertai kondisi spiritual yang mendalam, seperti khusyuk dan meneteskan air mata. Tingkat doa ini lebih berpotensi dikabulkan.
3. Doa kesiapan (isti'dad): Doa yang dilakukan dengan mempersiapkan diri dan menciptakan kelayakan untuk menerima apa yang diminta. Tingkat doa ini diyakini pasti dikabulkan.
Apa Filosofi Ujian yang Diberikan Allah SWT kepada Hamba-Nya?
Terkadang orang bertanya, mengapa Allah Swt menguji manusia? Bukankah Dia sudah tahu sejak awal siapa yang layak masuk surga dan siapa yang layak masuk neraka?; Pertanyaan ini semakin terngiang dalam pikiran ketika kita memperhatikan tiga ayat ini:
Pertama, ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah ingin menguji kalian, seperti dalam Surah Al-Mulk ayat 2: «لَّذِی خَلَقَ الْمَوْتَ وَ الْحَیاةَ لِیبْلُوَکُمْ أَیکُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا », "Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya."
Kedua, ayat yang menyatakan bahwa Allah Swt ingin memilah yang baik dari yang buruk: «لِیَمیزَ اللّهُ الْخَبیثَ مِنَ الطَّیِّبِ وَ یَجْعَلَ الْخَبیثَ بَعْضَهُ عَلى بَعْض فَیَرْکُمَهُ جَمیعاً فَیَجْعَلَهُ فی جَهَنَّمَ أُولئِکَ هُمُ الْخاسِرُونَ», "Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu Dia himpunkan semuanya, kemudian Dia masukkan ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi."
Ketiga, ayat-ayat yang ingin mengetahui siapa di antara hamba-Nya yang beriman dan takut kepada Allah swt dalam keadaan gaib: «یا أَیُّهَا الَّذینَ آمَنُوا لَیَبْلُوَنَّکُمُ اللّهُ بِشَیْء مِنَ الصَّیْدِ تَنالُهُ أَیْدیکُمْ وَ رِماحُکُمْ لِیَعْلَمَ اللّهُ مَنْ یَخافُهُ بِالْغَیْبِ فَمَنِ اعْتَدى بَعْدَ ذلِکَ فَلَهُ عَذابٌ أَلیمٌ», "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah ditangkap oleh tanganmu dan tombakmu, supaya Allah mengetahui siapa yang takut kepada-Nya dalam keadaan gaib. Maka barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih."
Dengan memperhatikan ayat-ayat ini, pertanyaan menjadi lebih serius, apakah Allah Swt ingin mendapatkan ilmu dengan perbuatan kita? Dan apakah Dia tidak tahu sebelumnya?
Jawabannya adalah bahwa Allah mengetahui segala sesuatu dengan ilmu-Nya yang tak terbatas. Akan tetapi, menghukum orang yang bersalah sebelum melakukan kejahatan adalah bertentangan dengan keadilan, dan Allah SWT adalah Maha Adil. Jadi, maksudnya bukanlah bahwa Allah mendapatkan ilmu, melainkan bahwa potensi manusia dalam kebaikan dan keburukan terwujud sehingga ia berhak mendapatkan pahala atau siksaan.
Pada bagian terakhir doa, kita membaca: «یا عالِماً بما فی صُدورِ العالَمین», "Wahai Allah yang Maha Mengetahui apa yang ada di dalam dada seluruh alam". Kata "al-'aalamiin" tidak hanya mencakup manusia, tetapi juga mencakup manusia, malaikat, hewan, tumbuhan, bahkan semua makhluk di alam semesta ini.
Alasan Mengucapkan Shalawat di Akhir Doa
"Shallii 'alaa Muhammadin wa aalihi ath-thaahiriin" (Sampaikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya yang suci). Pengucapan shalawat di akhir doa memiliki tiga poin penting: Pertama, shalawat adalah doa dan zikir yang paling utama.
Poin kedua adalah bahwa Allah secara jelas memerintahkan dalam Al-Qur'an agar setiap kali mendengar nama Nabi Muhammad Saw, kita harus bershalawat kepadanya, karena Allah dan para malaikat bershalawat kepadanya.
Shalawat yang Sempurna: Tidak Hanya untuk Nabi Muhammad SAW
Poin terakhir adalah penting untuk diingat bahwa shalawat tidak hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw, tetapi juga kepada keluarga beliau. Nabi Muhammad SAW sendiri melarang "shalawat abtar," yaitu shalawat yang terputus atau tidak lengkap. Shalawat abtar merujuk pada shalawat yang hanya menyebut Nabi Muhammad SAW saja. Oleh karena itu, umat Sunni juga diwajibkan untuk bershalawat kepada keluarga Nabi Muhammad Saw.
Shalawat memiliki banyak keutamaan dan keistimewaan. Salah satunya adalah membantu mengabulkan doa. Mengucapkan shalawat sebelum dan sesudah berdoa atau menyampaikan hajat dapat menjadi perantara agar doa dan permohonan tersebut dikabulkan. Dianjurkan untuk membaca shalawat sebelum dan sesudah berdoa.
Allahumma shalli 'alaa Muhammadin wa aali Muhammad wa 'ajjil farajahum.
Komentar Anda